Judul Buku : Relung Rasa Raisa
Penerbit : Plot Point
Pengarang :
Lea Agustina Citra
Tahun terbit : 2014
Jumlah Halaman: 322
Akhirnya sampai di buku ke tujuh dan buku ketiga di bulan Febuari itu
berati 93 buku lagi untuk dibaca dan direview *hoamm. Buku ketujuh gue kali ini
adalah buku karangan Lea Agustine Citra. Well, bagi kamu penyuka novel fantasi penulis
satu ini sudah ga asing lagi dia sudah menerbitkan lima buku sebelum novel ini yang
terdiri dari 2 novel fantasi berjudul Flavia dan 3 antalogi cerpen. Seperti
biasa saya suka random kalau pilih buku romance dan karena plot point pasti
selalu nerbitin karya bagus (Buktinya naskah ekye yang briliant itu ditolak
*abaikan) maka saya beli aja buku ini. Dan hasilnya saya ga buang duit lah.
Buku ini worth every penny.
Novel ini dimulai dengan
kisah Raisa, editor Aha Publising sebuah penerbit yang hampir bangkrut, yang memutuskan
pergi ke Jerman tepatnya Frankfrut book festival untuk mencari hak terbit novel
best seller yang akan menyelamatkan penerbitnya. Di Frankfrut book festival dia
jatuh cinta pada Cedar Incense,
novel best seller berlatar kerusuhan Mei 1998 di Indonesia yang pengarangnya,
Jan Marco bersikeras tidak mau menerbitkan buku itu di Indonesia. Dengan
bantuan Lilo, pria baik hati mahasiswa Indonesia kenalannya dia nekat menyusul
Jan Marco ke Aachen, kota tua di pinggiran Jerman. Siapa sangka di Aachen dia
bertemu masa lalu yang paling tidak ingin ditemuinya Caesar.
Satu hal yang saya sukai dari
sebuah novel adalah beginningnya Novel ini termasuk yang memiliki begginning
briliant. Ga usah pake bangun pagi bla.. bla.... Di halaman pertama kita
langsung mendapati Raisa di atas pesawat terbang dan digoda oleh seorang anak
kecil. Di sini ada adegan kunci kala Raisa memikirkan seorang gadis kecil lain.
Sebagai pembaca yang kepo saya ingin tahu siapa gadis kecil itu. Kemudian
dilanjutkan kejadian lucu dan norak Raisa waktu ketemu Lilo dan ah yah adegan yang bikin saya terpingkal-pingkal
saat I-Phone Lilo jatuh terkena air. Masuk ke pertengahan saya dibuat penasaran
dengan hubungan rumit Raisa dan Ceaser. Mengapa Raisa begitu membenci Ceaser
tetapi mau saja waktu cowo itu memberikan bantuan untuk mendekati Marco? Mengapa Ceaser cemburu banget sama hubungan
Lilo dan Raisa? Well pertanyaan itu
terjawab dan membuat saya amazed sama cara penulis menciptakan konflik. Kalian
harus baca, deh!
Novel setebal 320 halaman ini ditulis dengan alur maju mundur.
Pengkarakterisasian setiap tokoh juga bagus paling tidak saya bisa melihat ada perubahan
dari diri Raisa begitu Pun Ceaser. Saya sendiri suka kepribadian Lilo yang
lucu dan gombal ga jelas gitulah. Paling kasian waktu dia bilang gini ke Raisa
"Kamu ga mau bilang kalau saja aku ketemu kamu lebih dulu daripada Ceaser dst dst dst" huhuhu kasihan Lilo #teamLilo.
POV yang digunakan adalah orang ketiga serba tahu jadi kita ga perlu
dibuat penasaran sama apa yang dipikirkan oleh tokoh-tokohnya. Saya juga suka
sama desain covernya sesuai sekali isi cerita di novel ini. Mengankat sedikit tragedi Mei 1998 juga hal yang harus dicatat sebagai kelebihan novel ini. Paling ga bikin kita anak muda (iya saya masih muda) untuk menolak lupa tragedi ini dan berdoa ga akan terjadi lagi. Ah yah saya juga ga
melihat adanya typo dan well edited.
Editornya Mbak Dona pasti sudah melakukan yang terbaik untuk novel ini :D
Terlepas dari semua kelebihannya
buku ini tak luput dari kekurangan. Yang pertama Settingnya yang menurut saya
kurang dieksplore. Kota Jerman dan Achen kurang di tunjukkan pada novel ini.
Paling hanya sepintas lalu dan dari dialog para tokoh. Padahal kalau bisa
dieksplore lagi bisa tambah keren deh novelnya. Yang kedua ada satu hal yang
menganggu saya pada tahun 1998 dibilang kalau usia Ceaser 10 tahun. Kemudian
dia dan Marco terpaut usia 4 tahun. Apakah mungkin kisah Marco terjadi saat dia
berusia 14 tahun? Hemm (atau saya yang kurang teliti bacanya) terlepas daripada
kekurangan itu buku ini masih asik dibaca. Segela kekurangan itu akan segera
terlupakan saat sampai di alasan mengapa Raisa dan Ceaser berpisah (yang bikin
saya terbawa emosi) adegan briliant ini bikin segala kekurangan di buku ini
termaafkan. Romancenya ga melulu soal konflik cinta tetapi lebih daripada itu yaitu memberi cinta kesempatan.
Akhirnya dari buku ini saya banyak
mendapat pesan. Yang pertama, hati-hati dalam bergaul dan belajarlah
bertanggung jawab pada apapun yang kita pilih. Yang kedua, cinta itu pake hati
bukan pake logika karena kalau pake logika pasti sering galau kaya Raisa :D dan
yang ketiga memaafkan sama seperti kata Raisa di halaman berapa gitu pokoknya
adalah adegan dia di Katredal di Germany (saya bukan tipe reviewers yang doyan
sebut halaman maafkan saya) Tuhan yang
maha kuasa aja bisa memaafkan kenapa kita yang lemah ini tidak? Yups novel ini
mengajarkan bagaimana memaafkan masa lalu dan hal-hal buruk di sekitar kita. Saya merekomendasikan buku ini buat kalian yang sudah muak sama romance biasa-biasa saja yang udah ketahuan dari awal kalau tokoh utamanya bakalan jadian atau adegan romantis yang terlalu dipaksakan.. Buku ini mencoba keluar dari box itu. Ga rugilah istilahnya.
Sampai jumpa di review selanjutnya...

0 komentar:
Posting Komentar