Judul Buku : Size 12 is not Fat
Pengarang : Meg Cabot
Penerjemah : Barokah Ruziati
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit : 2011
Jumlah halaman : 416 halaman
Hay
hay kembali lagi di review buku Ajen Angelina. Setelah beberapa abad ga nulis
review (lebay) akhirnya hari ini gue berhasil menulis sebuah review juga. Well,
maklumlah selama ini gue kerja rodi pagi sampai malam, senin sampai sabtu dan
tanggal 25 kemarin resign jadi punya banyak waktu luang. Yaps, i am officially jobseeker kalau ada
yang mau kasih gue kerjaan silahkan aja, yah *mainmata. Well, kita sudahi
paragraf pembuka ini di sini saja kita lanjut ke paragraf kedua yang membahas
tentang buku yang gue baca.
Buku
kedua yang gue baca adalah size 12 is not
Fat by Meg Cabot. Tahu dong Meg Cabot? Yuhuuu, benar banget dia adalah
penulis teentlith yang karyanya udah diterbitkan berjuta-juta copy. Sebut saja Princes Diaries yang sukses diangkat ke
layar kaca dengan Anna Hateway sebagai princessnya. Ada juga American Hero yang mengisahkan seorang
ABG yang terkenal karena menyelamatkan presiden dari tembakan. Pokoknya Si Meg
Cabot ini sudah banyak sekali menulis novellah. Satu kekhasan dia menulis novel
adalah dia selalu pake sudut pandang pertama dengan gaya bahasa yang kocak. Hal
itupun bisa kita temui di novelnya satu ini.
Berbeda
dengan novel lainnya yang bertema remaja atau romance atau fantasi kali ini di
Size 12 is not Fat, Meg coba main detektif-detektifan. Adalah Heather Walls,
seorang mantan idola remaja yang dipecat dari studio rekaman, diselingkuhin
tunangan, seluruh tabungannya dibawa lari sama Ibunya ke Argentina, pokoknya
hidup di sial banget, deh. Kesialan itu membuat dia banyak makan dan berhasil
mencapai ukuran 12. Lalu kemudian dia
mendapat tawaran dari Cooper, kakak mantan tunangannya yang tampan untuk
menempati kamar kosong di rumah Cooper dengan imbalan mengatur kuitansi Cooper
yang berantakan. Cooper ini berprofesi sebagai detektif swasta gitulah. Heather
akhirnya mendapat kerja sebagai wakil direktur rumah tinggal (bukan asrama) di
newyork Collage. Sang direktur asrama, Rachel adalah perempuan kurus, cantik
dan perfeksionis. Heather menyukai perkejaan baru dan bosnya.
Di
rumah tinggal Newyork Collage inilah
hidup Heather berubah. Semula dimulai dengan terbunuhnya seorang gadis anak
baru yang ditemukan tewas di bawa dasar lift. Polisi menetapkan hal itu karena
anak tersebut bermain selancar lift tetapi Heather tidak percaya dia yakin anak
itu didorong seseorang. Kurun waktu dua minggu kemudian seorang anak lagi
meninggal. Kali ini Heather yakin itu semua bukan kecelakaan. Dia kemudian
melakukan penyelidikan bersama Cooper dan mencurigai Christian, anak rektor
Allington yang menjadi kekasih para gadis yang meninggal itu. Semakin banyak
bukti yang dikumpulkan membawa Heather pada percobaan pembunuhan atas dirinya
sebanyak dua kali. Hingga akhirnya dia tercengang mengetahui siapa dan apa motif
pembunuhnya.
Buku
setebal 413 halaman yang diterjemahkan dengan apik oleh Mbak Barokah Ruziatih
ini menarik. Seperti biasa Meg menyampaikan segalanya dengan gaya kocak dan
asyik.
Plotnya novel ini tersusun rapi tanpa flashback langsung (hanya diceritakan pada tokoh) Yah meskipun ada beberapa cacat diantaranya masa lalu Heather yang tidak diselesaikan dan cara Meg menjabarkan novel detektif tidak sekaliber Agatha Christie atau Conan Doyle menjabarkan novel mereka. Namun, untuk sebuah novel pembunuhan, novel ini layak dikasih satu jempol karena kepiwaian Meg menggiring pembaca mengikuti arus dan mampu membuat pembaca (saya sih sebenarnya) memikirkan nasib orang tua gadis-gadis yang meninggal. Pesan yang bisa kita dapatkan dari buku ini ada tiga. Yang pertama percaya diri pada apapun penampilan kamu, yang kedua Cinta bukanlah segalanya untuk hidup masih ada uang, film, musik, buku, makanan, dll :p, dan yang terakhir jangan pernah mengatai perempuan gemuk, gemuk.
Plotnya novel ini tersusun rapi tanpa flashback langsung (hanya diceritakan pada tokoh) Yah meskipun ada beberapa cacat diantaranya masa lalu Heather yang tidak diselesaikan dan cara Meg menjabarkan novel detektif tidak sekaliber Agatha Christie atau Conan Doyle menjabarkan novel mereka. Namun, untuk sebuah novel pembunuhan, novel ini layak dikasih satu jempol karena kepiwaian Meg menggiring pembaca mengikuti arus dan mampu membuat pembaca (saya sih sebenarnya) memikirkan nasib orang tua gadis-gadis yang meninggal. Pesan yang bisa kita dapatkan dari buku ini ada tiga. Yang pertama percaya diri pada apapun penampilan kamu, yang kedua Cinta bukanlah segalanya untuk hidup masih ada uang, film, musik, buku, makanan, dll :p, dan yang terakhir jangan pernah mengatai perempuan gemuk, gemuk.
Well,
sekian review novel dari saya. Sampai jumpa di review berikutnya :D

0 komentar:
Posting Komentar